News

Mencari Calon Presiden

jusufkallaRabu (17/10), kantor mantan Wakil Presiden Jusuf Kalla di wilayah Kuningan, Jalan Rasuna Said, Jakarta Selatan, kedatangan para tokoh kelompok Rumah Kebangsaan Indonesia Memilih Pemimpin. Mereka terdiri dari Komaruddin Hidayat, Didik J Rachbini, Sukardi Rinakit, Teten Masduki, J Kristiadi, Garin Nugroho, Benny Susetyo, Mariza Hamid, Henny Lestari, Nia Mulachela, dan Fifi Hadiyanto. Jusuf Kalla ditemani Jusuf Wanandi, Sofjan Wanandi, dan Markus Wanandi.

 

Kelompok Rumah Kebangsaan yang dikoordinasi Komaruddin Hidayat itu datang dalam perjalanannya mencari para calon pemimpin bangsa Indonesia, terutama menghadapi Pemilihan Presiden 2014. Sebelumnya, Rumah Kebangsaan telah mendatangi pemimpin partai politik dan tokoh-tokoh agama seperti Megawati Soekarnoputri, Surya Paloh, Syafii Maarif, Hayono Isman, dan Muhaimin Iskandar.

 

Pada Senin, 29 Oktober 2012 mendatang, kelompok ini akan memperkenalkan diri secara terbuka dalam suatu acara di Taman Ismail Marzuki, Jakarta. Setelah itu, perjalanan silaturahim mencari pemimpin akan dilanjutkan di seluruh Indonesia.

 

Tokoh itu-itu juga

Dalam pertemuan di kantor JK itu, Kristiadi melukiskan runyamnya kehidupan partai politik di Indonesia saat ini. Calon presiden yang dikumandangkan oleh parpol adalah tokoh-tokoh itu-itu juga. Kejengkelan kepada parpol bukan hanya datang dari luar parpol.

 

”Orang-orang dalam parpol sendiri banyak yang mau muntah dengan keadaan partai mereka sendiri,” ujar Kristiadi.

 

Dengan terus terang, Kristiadi berharap agar JK mau lagi untuk menjadi calon dalam pemilihan presiden tahun 2014. ”Paling tidak doa saya begitu,” ujar Kristiadi.

 

JK tidak menjawab permintaan Kristiadi. Mantan wapres ini lebih banyak bicara soal mengapa Indonesia sampai seperti saat ini. Ia menekankan kembali tentang sistem pemerintahan, seperti demokrasi, yakni sarana atau alat untuk mencapai cita-cita bangsa dan negara sampai ke alam kemakmuran, kesejahteraan, dan keadilan. Untuk mencapai itu, menurut JK, faktor terpenting adalah pemimpin atau kepemimpinan negara.

 

”Ada sistem pemerintahan diktator, negerinya bisa sejahtera. Tentu ada yang pemerintahan diktator, negerinya tidak sejahtera. Begitu pula pemerintahan demokratis bisa membuat makmur dan tidak makmur. Ada pula yang semidemokratis, bisa makmur dan bisa tidak makmur,” ujar JK sambil memberi contoh sistem sejumlah negara di dunia ini.

 

”Sekali lagi faktor terbesar penentunya adalah pemimpinnya,” ujar JK.

 

Jangan coba-coba

Oleh karena itu, nasihat JK, kalau memilih pemimpin tertinggi pemerintahan atau presiden jangan main coba-coba atau sembarangan saja. ”Gubernur, wali kota, bupati bisa dengan mudah diawasi atau ditegur. Para menteri yang tidak baik bisa diganti lewat perombakan kabinet dan seterusnya. Mengganti presiden atau mengawasi tindakannya tidak semudah itu,” ujar JK.

 

Satu nasihat kecil JK untuk kelompok Rumah Kebangsaan, ”Jangan terlalu sibuk membuat logo atau simbol kelompok, untuk menghindari eksklusivisme.” Selamat siang.... (J Osdar)

 

Sumber: http://cetak.kompas.com/read/2012/10/23/01525945/mencari.calon.presiden.

Leave your comments

0 Character restriction
Your text should be more than 10 characters
Your text should be less than 300 characters
terms and condition.
  • No comments found