News

TAJUK, Manisnya Isu Transportasi Massal

joko-widodoJoko Widodo /IlustrasiKemenangan Joko Widodo (Jokowi)-Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) dalam Pemilihan Umum Kepala Daerah Provinsi DKI Jakarta selain menunjukkan bahwa warga Jakarta mengharapkan perubahan, ternyata juga membangun suatu wacana yang selama ini dipandang sebelah mata menjadi wacana yang layak mendapatkan porsi pemberitaan utama.

 

Wacana itu adalah mengenai kebutuhan akan transportasi massal di Jakarta dan kota-kota besar lainnya. Pembahasan mengenai transportasi massal belum pernah seramai ini yang hingga beberapa menteri dan Presiden pun urun rembuk berbicara. Selama ini ketika berbicara mengenai transportasi massal,isinya cenderung mengenai keluh kesah soal alat transportasi massal yang masih sangat terbatas jumlahnya dan dengan pelayanan ala kadarnya.

 

Namun saat ini ketika berbicara mengenai transportasi massal,ada aura positif. Sekalipun isu mass rapid transit (MRT) dalam bentuk subway dan light rapid transit (LRT) dalam bentuk monorel merupakan wacana yang sudah berkembang sejak Fauzi Bowo masih berkuasa, ternyata isu ini menjadi hip di masa Jokowi-Ahok dan menjadi isu yang manis serta mendapat respons positif.

 

Masyarakat berharap banyak dari pasangan ini dan di lain pihak keduanya menyanggupi pelaksanaan program yang sudah lama mangkrak ini. Pasangan baru ini memberikan harapan bahwa transportasi massal yang canggih dan dapat diandalkan itu bukanlah mimpi. Lagipula dengan pendapatan berbagai macam pajak dan retribusi atas kendaraan bermotor pada 2011 yang melebihi Rp9 triliun, tentu sudah sewajarnya Pemprov DKI Jakarta mengembalikan uang itu kepada penduduknya dalam bentuk pelayanan transportasi massal yang dapat diandalkan.

 

Selama ini karena buruknya transportasi massal,akhirnya para penduduk di kota-kota besar mengalami ketergantungan pada kendaraan pribadi.Tiada hari tanpa macet sehingga kota-kota besar kian menjadi tempat yang tidak nyaman untuk ditinggali. Misalnya di Jakarta bahkan sudah seperti tidak mengenal rush hour karena kemacetan terjadi nyaris sepanjang hari.

 

Berdasarkan hasil survei Japan International Corporation Agency (JICA), lalu lintas Jakarta akan macet total (gridlock) pada 2014 jika tak dilakukan perbaikan sistem transportasi. Semua penduduk kota-kota besar di Indonesia pasti mendambakan transportasi massal yang mumpuni.Terlebih untuk yang pernah ke luar negeri atau minimal melihat melalui layar televisi dan komputer mengenai negara-negara maju yang memiliki sistem transportasi massal yang canggih dan dapat diandalkan.

 

Di beberapa kota besar di luar negeri—terutama di Eropa Barat— bahkan memiliki kendaraan pribadi bukanlah pilihan yang patut dipertimbangkan karena sistem transportasi massal yang baik membuat kepemilikan kendaraan pribadi seperti mobil menjadi tidak efisien. Selain overhead cost-nya sangat tinggi, ternyata transportasi massal jauh lebih memudahkan penggunanya dibandingkan harus kesulitan mencari tempat parkir.

 

Mungkin pasangan Jokowi-Ahok bisa menjadi contoh untuk mengubah pola pikir pejabat publik lain bahwa dalam pengembangan transportasi massal,konsep public service obligation (PSO) harus diutamakan dan tak melulu memikirkan untung rugi.Semoga rencana pasangan ini memajukan Jakarta dalam konteks sistem transportasi berhasil dan menjadi contoh bagi kota besar lain di Indonesia bahwa sistem transportasi massal itu sesuatu yang bisa dilakukan dan memberikan manfaat.

Lagipula kalau kita melihat kampanye lalu sebenarnya masyarakat Jakarta itu tak terlalu penuntut,cukup selesaikan masalah macet,maka akan dipandang sukses.Masalah lain seperti banjir,kemiskinan,dan masalah urban lainnya,bila turut diatasi,akan menambah kesempurnaan

 

Sumber: http://www.seputar-indonesia.com/new/news/tajuk-manisnya-isu-transportasi-massal

Leave your comments

0 Character restriction
Your text should be more than 10 characters
Your text should be less than 300 characters
terms and condition.
  • No comments found