Kegiatan AIPI

Roundtable Discussion ”Kepemimpinan Jakarta Paska Pilkada 2012”

pilkada dkiSumber foto: (JIBI/SOLOPOS/Antara)Pada hari Kamis, tanggal 7 Juni 2012, bertempat di Gedung Widya Graha LIPI, Pengurus Cabang Asosiasi Ilmu Politik Indonesia Jakarta, bekerjasama dengan Pusat Penelitian Politik (P2P) LIPI dan Komisi Pemilihan Umum Daerah (KPUD) Provinsi Jakarta menyelenggarakan acara Roundtable Discussion dengan tema ”Kepemimpinan Jakarta Paska Pilkada 2012”  dilihat dari perspektif ekonomi, politik perkotaan, dan insprastuktur.


Kegiatan ini menghadirkan para panelis antara lain Prof. Dr. Suyono Dikun seorang ahli insfrastruktur, Andrinof Chaniago, M.Si sebagai ahli politik dan isu perkotaan, serta ekonom, Dr. Aviliani.  Acara ini dimoderatori oleh Prof. Dr. Syamsuddin Haris , pakar politik nasional dan pemilu sekaligus sebagai  Sekjen PP AIPI.  Dari calon gubernur dan wakil gubernur DKI Jakarta yang diundang, tampak hadir  dua cawagub. Pertama, dari jalur independen, Ir. H. Ahmad Riza Patria, MBA yang berpasangan dengan Mayjen TNI (Purn) Drs. H. Hendardji Soepandji, SH. Sementara pembicara kedua yang merupakan cawagub DKI 1 adalah Prof. DR. Didik Junaedi Rachbini yang berpasangan dengan DR. H. M. Hidayat Nur Wahid, MA.


Acara dimulai pukul 13.30 WIB dan dibuka oleh Dr. Mohammad Noer, selaku ketua Pengurus Cabang AIPI Jakarta.


Kesempatan pertama diberikan kepada cawagub yang di usung oleh Partai Keadilan Sejahtera (PKS) dan Partai Amanat Nasional (PAN). Dalam paparannya ia mengatakan bahwa Gubernur DKI Jakarta harus juga bisa memimpin DKI di jalan, karena sepertiga dari kemacetan adalah disebabkan oleh perilaku pengemudi kendaraan bermotor.  Memang, untuk mengatur jutaan orang tidaklah mudah, sehingga diharapkan polisi dapat dilatih agar lebih profesional dalam mengatasi simpul-simpul kemacetan. Pelatihan itu  diharapkan dapat menghasilkan polisi yang mempunyai visi dengan kemampuan International Standard Organisation (ISO) seperti di negara maju. “Ke depan, tidak boleh ada lagi rel kereta ketemu atau bersimpangan jalan dengan jalan umum, untuk itu harus dibuat 300 underpass dan fly over untuk mengurai kemacetan Jakarta,” kata Didik.

 

Masih menurut Didik, jumlah kendaraan bermotor naik karena transportasi massal buruk, sehingga mesti ada jalan keluar agar  orang-orang dapat berpindah menggunakan sarana transportasi massal ketimbang memakai kendaraan pribadi.“Kami akan mencegat kawasan-kawasan pinggiran (sub urban) dengan pintu masuk untuk transportasi massal, agar masyarakat bisa menuju pusat kota hanya dengan transportasi massal yang memadai artinya, bersih, aman dan nyaman,” ungkapnya.

 

Pemaparan berikutnya diberikan oleh cawagub yang juga mantan Ketua KPU Provinsi DKI Jakarta, Ahmad Riza Patria. Ia menyampaikan betapa beratnya perjuangan calon independen untuk menjadi kontestan dalam Pilkada DKI sebab harus mendapatkan dukungan berupa KTP yang mencapai 730.000 lembar. Meskipun, lanjut Komandan Nasional Menwa ini, hanya 470.000 lembar yang dinyatakan sah oleh KPU setelah diverifikasi. “Bukan hanya fotokopi KTP, tapi kami juga harus memiliki tanda tangan "basah" dari semua pendukung kami,” imbuh Riza. Perjuangan itu belum selesai karena dukungan harus diverifikasi dua kali, secara administratif dan faktual. Selain itu, dengan yakin Riza mengatakan bahwa "pendukung kami kebanyakan dari daerah BERKUMIS alias Berantakan, Kumuh dan Miskin". Riza juga menambahkan bahwa visi pasangannya adalah “Membangun Jakarta megapolitan yang laik huni, aman-adil-asri melalui peremajaan kota dan partisipasi masyarakat”.


Acara ini dihadiri tidak kurang dari 150 orang, yang antara lain datang dari kalangan mahasiswa, peneliti, dan anggota AIPI. Acara berakhir pada pukul 17.00 WIB. (Ditulis oleh: Prayogo)

Leave your comments

0 Character restriction
Your text should be more than 10 characters
Your text should be less than 300 characters
terms and condition.
  • No comments found