Kegiatan AIPI

Sambutan Ketum PP AIPI acara Pelantikan PP AIPI Periode 2015-2019

 

SAMBUTAN KETUA UMUM PP AIPI

PADA ACARA PELANTIKAN KEPENGURUSAN BARU PP AIPI

PERIODE 2015-2019

Hotel Century Park, Jakarta, 11 November 2015

 

Assalamu ‘Alaikum Wr. Wb.

Salam Sejahtera untuk kita semua

 

Ibu, Bapak, rekan-rekan semua, marilah kita panjatkan puji syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa, yang telah memberikan karunia-Nya sehingga kita dapat bertemu dan berkumpul di ruangan ini dalam keadaan sehat dan dengan spirit kejuangan yang tinggi.

Pada kesempatan yang berbahagia ini, perkenankan saya, Alfitra Salaam selaku Ketua Umum PP AIPI terpilih hasil Kongres AIPI ke-9 di Jakarta pada Agustus 2015 yang lalu mengucapkan terima kasih atas kehadiran Ibu, Bapak, rekan semua dalam acara pelantikan Pengurus Pusat AIPI 2015-2019. Saya sangat paham, di tengah kesibukan, tugas, dan tanggung jawab masing-masing, hadirin semua berkenan menghadiri pelantikan ini yang menjadi momentum untuk menegaskan kembali komitmen kita di dalam memajukan ilmu politik serta memberikan kontribusi bagi pembenahan sistem politik, demokrasi, dan pemerintahan.

 

Kehadiran kita semua di sini tentulah punya banyak arti bagi perkembangan ilmu politik di Indonesia. Sebagai insan pelajar, pendidik, peneliti, dan pengembang ilmu politik, kita semua dihadapkan pada beragam tantangan era peradaban politik yang semakin multidimensional dan multi-aktor. Berbagai jawaban atas tantangan tersebut tentu dibutuhkan oleh bangsa Indonesia untuk bisa memantapkan kualitas demokrasi, memajukan kesejahteraan bersama, dan mewujudkan perdamaian dunia. Dengan berkumpul kita menyatukan komitmen luhur untuk menjaga ilmu politik dengan beragam turunan dan disiplin ilmu didalamnya dari penistaan keilmuan dan manipulasi oleh berbagai kepentingan politik, pragmatisme kekuasaan, maupun ambisi sempit para zoon politikon.

 

Rekan-rekan Pengurus yang saya hormati,

Untuk diketahui, hingga saat ini, Pengurus Pusat AIPI sudah mengalami beberapa kali periode kepengurusan. Almarhum Dr. Alfian adalah pendiri sekaligus Ketua Umum PP AIPI yang pertama dengan masa kepengurusan dua periode, yakni dari tahun 1987-1994. Namun sebelum menyelesaikan masa bhakti periode kedua, Pak Alfian dipanggil Yang Maha Kuasa. Ketua Umum PP AIPI berikutnya dipegang oleh Prof. Dr. Nazaruddin Sjamsuddin yang mengalami dua kali kepengurusan, yakni dari tahun 1997-2003. Setelah periode Pak Alfian dan Pak Nazar, PP AIPI kemudian dipimpin oleh Prof. Dr. M. Ryaas Rasyid, MA, juga mengalami dua kali kepengurusan, dari tahun 2003-2008. Selanjutnya, sejak Kongres VII AIPI di Banjarmasin pada 2008 dan Kongres VII AIPI di Manado 2011, PP AIPI dipimpin oleh Dr. SH. Sarundajang selama dua periode hingga bulan Agustus tahun 2015 ini.

 

Pada Kongres IX AIPI di Jakarta, atas kehendak bulat peserta Kongres saya diberi mandat untuk memimpin AIPI selama empat tahun ke depan. Tambahan kepercayaan ini tidaklah mungkin saya tolak, meski sekarang ini saya sudah mendapat tugas sebagai Sekretaris Kemenpora, karena didalamnya ada tugas mulia untuk berkontribusi bagi pemantapan demokrasi secara keilmuan. Saya merasa terhormat dan tertantang atas kepercayaan rekan-rekan ilmuwan politik semua untuk mengkoordinasikan segenap potensi yang ada di AIPI guna pengembangan ilmu politik yang sudah saya geluti semenjak saya memulai kehidupan akademik sebagai peneliti di LIPI.

 

Rekan-rekan ilmuwan politik,

Perkembangan kehidupan politik bangsa kita yang telah memasuki sistem demokrasi selama lebih dari 16 tahun terakhir, menurut saya, menuntut keterlibatan keluarga besar AIPI secara aktif dan kreatif dalam memikirkan serta mencari solusi berbagai persoalan strategis bangsa kita. Sekarang ini kita telah menuntaskan masa transisi demokrasi, dimana aturan-aturan lama mulai banyak diganti dengan aturan-aturan baru. Selanjutnya kita berproses untuk mengkonsolidasikan dan meningkatkan kualitas demokrasi dengan memperkuat lembaga-lembaga dan budaya demokrasi. Namun, secara jujur harus kita akui, meskipun pemilu dan pilkada yang relatif demokratis telah berlangsung secara rutin sebagai sarana pergantian kekuasaan yang legitimate dan damai, namun kualitas demokrasi dan pemerintahan yang dihasilkannya belum sesuai dengan harapan kita bersama.

 

Korupsi masih menjadi penyakit demokrasi yang meluas di Indonesia. Ribuan wakil rakyat, kepala daerah, penyelenggara negara, dan kalangan dunia usaha telah terjerat kasus-kasus korupsi. Birokrasi masih perlu reformasi secara mendasar supaya pelayanan publik semakin baik dan efisien. Penegakan hukum sering terkontaminasi kekuatan uang dan kekuasaan sehingga rasa keadilan masih belum tercipta. Intoleransi dan konflik sosial masih mengancam kesatuan bangsa. Politik kekerabatan menjamur yang menyebabkan sulitnya calon-calon pemimpin yang inovatif untuk muncul apalagi memenangkan kontestasi elektoral. Daftar masalah dan ekses negatif masihlah panjang untuk disebutkan satu persatu, dan itu menuntut keterlibatan AIPI untuk turut memformulasikan permasalahan dan mencari solusinya.

 

Sebagai organisasi profesi keilmuan, AIPI ditantang untuk menghasilkan desain sistem dan kelembagaan ataupun rekomendasi kebijakan yang obyektif dan memiliki relevansi tinggi secara ilmiah. Itu semua tentunya demi terwujudnya Indonesia baru yang benar-benar nyaman bagi semua unsur bangsa kita dan menjadikan negara besar ini lebih bermartabat dan berdaulat, serta mampu bersaing secara regional dan global. Untuk itulah AIPI diharapkan hadir sebagai bagian dari agen transformasi sosial-politik dengan memberikan kontribusi dalam analisa, formulasi, maupun implementasi berbagai rancang bangun regulasi, kebijakan, dan keputusan politik.

 

Secara keilmuan, AIPI dituntut untuk bisa menyelaraskan dan menyeimbangkan kemajuan ilmu politik dengan demokrasi Indonesia. Ilmu politik yang maju tanpa menghasilkan kehidupan demokrasi yang substansial bukanlah yang kita harapkan. Kita mendambakan AIPI nantinya bisa menjadi ajang untuk memajukan dan mensosialisasikan riset-riset politik yang bermutu supaya demokrasi Indonesia yang sudah banyak kemajuannya bisa menjadi contoh sukses untuk banyak negara lain.

 

AIPI semestinya bisa memfasilitasi pengembangan pengajaran dan kualitas pendidikan ilmu politik di kampus-kampus perguruan tinggi dengan membangun jejaring profesional dengan berbagai asosiasi sejenis di negara-negara lain. Kita juga menginginkan AIPI bisa berkontribusi dalam pendidikan politik kepada masyarakat luas sehingga mereka bisa menjadi warganegara yang efektif dan partisipan politik yang kritis. Selain itu tentunya, segenap anggota AIPI diharapkan senantiasa menjadi mitra kritis pemerintah dalam memajukan demokrasi dan perpolitikan Indonesia ke depan tanpa harus kehilangan jati diri sebagai ilmuwan yang memiliki kebebasan berpendapat dan tanggungjawab keilmuan.

 

Untuk itu guna membahas lebih lanjut apa yang bisa dilakukan oleh AIPI dalam periode kepengurusan 2015-2019 ini serta khususnya untuk tahun mendatang, maka saya undang rekan-rekan Pengurus untuk menghadiri Rapat Pleno perdana PP AIPI 2015-2019 selepas acara pelantikan ini di ruang ini. Mudah-mudahan kita nanti bisa merumuskan program-program jangka pendek dan menengah supaya keberadaan AIPI semakin bisa dirasakan oleh masyarakat luas pada umumnya dan kalangan ilmuwan dan pelajar politik pada khususnya.

 

Sebelum menutup sambutan ini, perkenankan saya atas nama Pengurus Pusat AIPI 2015-2019 mengucapkan terima kasih yang tak terhingga kepada pengurus AIPI periode lalu yang telah menjalankan tugas dengan baik, segenap pimpinan lembaga dan instansi pemerintahan yang membantu kesekretariatan AIPI selama ini yang masih belum memiliki kantor sendiri, para sahabat AIPI serta rekan-rekan media dan masyarakat sipil yang telah membantu efektivitas kerja AIPI. Melalui kesempatan yang berbahagia ini marilah kita sinergikan potensi dan kekuatan pikir dan kedalaman nurani kita demi demokrasi Indonesia yang lebih baik bagi semua warganegara.

 

Wassalamu ’Alaikum Wr. Wb.

Ketua Umum PP AIPI 2015-2019,

 

Ttd.

 

Dr. ALFITRA SALAMM, APU

 

Leave your comments

0 Character restriction
Your text should be more than 10 characters
Your text should be less than 300 characters
terms and condition.
  • No comments found