Kolom AIPI

Paskah Dan Teladan Elit

ferry liando

Jika saja Yesus dapat menggerakkan people power pada pemungutan suara publik untuk menentukan siapa yang akan dibebaskan antara dirinya atau Barnabas, maka Yesus belum tentu akan mati terbunuh. Jika Yesus dapat menghalalkan cara memprovokasi pengikutnya, tentu mereka bisa saja menghadang para tentara yang menangkapnya di taman Getsemani. Dimasa hidupnya, Yesus adalah seorang pengajar, pendidik sekaligus mengadakan mujiasat, membantu orang miskin, menegakan keadilan dan menyembuhkan banyak orang sakit. Dia berkeliling di banyak tempat di Galilea, Siria, Dekapolis, Yerusalem, Yudea hingga seberang Yordan. Perjalanan panjang ini membuatnya terkenal dan banyak yang mengikuti Dia.

 

Yesus tidak hanya mengajar, tetapi pernah memberi makan 4 ribu orang pengikutnya yang telah mengikutinya selama 3 hari. Angka itu belum termasuk jumlah perempuan dan anak-anak. Tidak cuma itu, ketika Dia berkunjung ke Yerusalem, Dia disambut pula oleh orang banyak yang sangat besar jumlahnya. Semua turun ke jalan, ada yang membuka bajunya dan memotong ranting pohon mengalaskannya di jalan yang hendak dilewatinya. Cerita ini menjelaskan bahwa Yesus bisa saja lolos dari hukuman jika mampu memobilisasi pengikutnya yang banyak saat Pemungutan suara siapa yang harus dibebaskan antara Yesus atau Barnabas, sang pembunuh itu. Atau menghasut pengikutnya agar menghadang para pasukan yang menangkapnya ketika Dia sedang berdoa di Taman Getsemani.

 

Ketika di depan pengadilan Mahkamah agama, para Imam-Imam kepala berusaha mencari pasal pidana yang bisa dituduhkan kepadanya. Karena amat sulit menemukan kesalahan maka dirancanglah skenario jahat yakni mencari saksi-saksi palsu yang dapat memberatkannya termasuk merancang daftar pemilih untuk menentukan suara siapa yang harus dibebaskan dari hukuman. Jika saja pengikut Yesus terdaftar dalam daftar pemilih saat itu, mungkin sejarah akan berkata lain. Namun Yesus tidak memanfatakan pengaruhnya memobilisasi pengikutnya untuk mendukung kepentingannya. Jika saja itu terjadi, bukan hanya ada pertumpahan darah, namun kekuasaan politik saat itu bisa jatuh karena kudeta para pengikut dan pendukung Yesus kala itu. Yesus sepertinya lebih mengutamakan stabilitas sosial ketimbang terjadinya gejolak atau pertumpahan darah.

 

Dia tidak memanfatakan para pengikutnya untuk melakukan perlawanan. Yesus yang disimbolkan sebagai Kasih itu, lebih menerapkan prinsip kerendahan hati ketimbang memamerkan Show of force yang dimilikinya. Kisah ini tidak banyak yang tahu apalagi meneladaninya. Sebagian besar elit tidak peduli dengan prinsip-prinsip kemanusiaan. Untuk mendapatkan ambisinya, rakyat kerap diadu domba, stuktur sosial terpecah belah pada polarisasi kepentingan politik. Masing-masing umat saling diadu, seolah-olah itu merupakan perjuangan kepentingan umat yang satu dengan umat yang lain. Tapi ini hanyalah ulah para elit untuk mendapatkan jabatan atau kekuasaan.

 

Sayangnya tidak banyak umat yang sadar bahwa mereka sedang diadu domba untuk kepentingan para elit yang memanfaatkan mereka. Publik diadu dengan rasa kebencian dan provokasi. Ketika usaha itu berhasil, maka kesempatan para elit memuluskan niat mendapatkan ambisinya. Sungguh perbuatan yang keji. Saling claim kemenangan masing-masing tim sukses calon Presiden pasca pencoblosan 17 April 2019, tidak hanya akan meresahkan publik tetapi juga bisa melahirkan ketidakpercayaan terhadap apapun yang hendak diputuskan KPU RI yang diberikan kewenangan oleh UU untuk mengumpul dan merekapitulasi keseluruhan suara hasil pencoblosan pada 22 Mei 2019 yang akan datang. Rakyat menunggu keteladanan para elit kita. Hari ini semua umat Kristiani diseluruh dunia merayakan Paskah Kedua, sebuah peringatan kebangkitan Kristus yang telah disiksa, dan mati diatas kayu salib.

 

Kisah ini menjadi sebuah pelajaran abadi sebab belum banyak politisi yang dimemiliki bangsa ini memiliki kerendahan hati. Padahal sikap ini tidak hanya untuk meredam ketegangan, tetapi menjadi penentu untuk masa depan dan untuk keselamatan demokrasi di Indonesia. Kita patut belajar kerendahan hati dari Seorang negarawan di Amerika Serikat bernama McCain. Senator yang dikalahkan Barack Obama pada pemilihan Presiden AS tahun 2008. Saat itu meski baru hasil berdasarkan exit poll, McCain tampil di depan rakyat Amerika dan mengatakan “Saya tidak suka hasil pemilu 2008. Tapi saya punya kewajiban untuk menerimanya. Sebuah konsesi bukan hanya bentuk sopan-santun. Konsesi merupakan tindakan untuk menghormati kehendak rakyat Amerika, suatu tindakan yang merupakan tanggung jawab pertama setiap pemimpin Amerika Serikat”.

 

Ia mengakui kemenangan Barack Obama, orang Amerika keturunan Afrika pertama yang menduduki Gedung Putih. McCain juga berkata, “Ini adalah waktu yang sulit bagi negara kita, dan saya berjanji kepadanya malam ini untuk sekuat tenaga membantunya dalam memimpin kita melalui berbagai tantangan yang akan kita hadapi.” Ayo para elit. Singkirkan ambisimu hanya sekedar untuk jabatan dan kekuasaan. Kalau ingin berkarya bagi bangsa ini, kita tidak harus merekayasa apa saja untuk merebut kekuasaan. Cukup dengan keteladanan para elit, maka bangsa ini bisa terselamatkan.

 

Oleh: Dr. Ferry Daud Liando, Ilmu Politik Unsrat dan Pengurus Pusat AIPI

 

 

Leave your comments

0 Character restriction
Your text should be more than 10 characters
Your text should be less than 300 characters
terms and condition.
  • No comments found