Kolom AIPI

Akhir Politik Transaksional?

firman noorOleh: Firman Noor, Ph.D

 

DENGAN diputuskannya pemilu serentak oleh MK beberapa waktu lalu, Indonesia diyakini oleh banyak pihak akan memasuki babak baru kehidupan politik yang lebih cerah. Sebagian besar kalangan menyambutnya dengan suka cita, terutama mereka yang selama ini kecewa dengan berbagai ekses negatif yang ditimbulkan oleh format pelaksanaan pemilihan sebelumnya, yang telah menyuburkan politik transaksional.

 

Dengan dilakukannya pemilihan legislatif (pileg) terlebih dahulu, sebagaimana yang telah terjadi selama ini, ikatan koalisi pemerintahan yang dibentuk lebih didasari oleh kepentingan sekadar menang. Pemerintahan tidak dilandasi oleh sebuah peleburan platform, visi, atau setidaknya kepentingan strategis jangka panjang, yang bertujuan menciptakan landasan atau grand design peningkatan kualitas hidup bangsa.

 

Ujung-ujungnya adalah terciptanya pemerintahan yang lebih mengakomodasi kepentingan eksklusif pihak-pihak yang tergabung dalam ”koalisi dadakan”, yang terbentuk pasca pileg tersebut.

 

Sebagai pihak yang turut senang dengan adanya keputusan MK tersebut, penulis merasa kebijakan itu telah tepat. Namun demikian, perlu dicermati bahwa dengan ditetapkannya aturan main itu, jelas tidak serta-merta akan menghapuskan gejala politik transaksional.

 

Ada beberapa kondisi yang tidak juga kunjung terselesaikan hingga hari ini, yang justru berpotensi mengekalkan politik transaksional di kemudian hari. Pertama adalah kenyataan bahwa situasi ideologisasi partai-partai politik telah berada pada titik nadir.

 

Kehidupan partai saat ini lebih dinaungi oleh pendekatan oportunisme, yang mengaburkan hakikat ideologi partai-partai. Tidak seperti tahun 1950-an, saat ini sebagian besar partai semakin menempatkan ideologi pada posisi yang ”paling privat”.

 

Eksis hanya di benak pikiran para ideologi partai, yang jumlahnya semakin terbatas dan terasingkan. Ketidakjelasan ideologis ini cukup menggejala yang tercermin, misalnya, dengan demikian mudahnya partai-partai membangun koalisi lintas ideologi untuk kemudian menciderainya.

 

Begitu pula dengan diambilnya keputusan-keputusan strategis partai, yang kerap ditentukan oleh segelintir orang, bahkan satu orang, yang dituntun oleh kalkulasi oportunisme dan bukan sebuah ideological exercise.

 

Padahal studi Ambardi (2009) berjudul ”Mengungkap Politik Kartel, Studi tentang Sistem Kepartaian di Indonesia” mengindikasikan bahwa manakala ideologi tidak berperan, maka persoalan politik transaksional hanya tinggal menunggu waktu.

 

Dikatakan bahwa ketidakjelasan ideologi adalah salah satu hakikat mendasar yang menopang tumbuhnya, atau bahkan menjadi jati diri, dari fenomena politik kartel. Fenomena ini menggejala dengan semakin lemahnya peran ideologi pasca pelaksanaan pemilu.

 

Maksudnya adalah pasca proses elektoral, manuver-manuver oportunistis dapat terus menggejala dan berpotensi menghasilkan apa yang disebut sebagai koalisi turah (grand coalition), di mana partai-partai itu, baik di parlemen ataupun di pemerintahan, karena kepentingan oportunistisnya, saling melindungi layaknya sebuah kartel. Dengan demikian, semakin tersingkirnya ideologi dalam tubuh partai-partai menyebabkan politik transaksional menjadi cenderung menguat.

 

Kedua, masih terkait dengan oportunisme, kentalnya keinginan partai-partai untuk selalu ingin tetap berada dalam lingkaran kekuasaan, dengan segala cara, merupakan penyebab lain tetap kuatnya politik transaksional.

 

Salah satu alasan di balik keinginan untuk tetap berada dalam lingkar dalam kekuasaan adalah demi melanjutkan eksistensi partai, mengingat salah satu sumber pemasukan partai dan segenap jaringannya, adalah jabatan-jabatan publik yang dimilikinya.

 

Situasi ini menjadi relevan mengingat saat ini kebanyakan partai tidak dapat mengharapkan pemasukan dari iuran anggota. Perludem dalam bukunya berjudul Bantuan Keuangan Partai Politik. Metode Penetapan Besaran, Transparansi dan Akuntabilitas Pengelolaan mengatakan seiring dengan memudarnya peran ideologi, partai politik sama sekali tidak dapat lagi mengandalkan iuran anggota untuk menghidupi aktivitas kesehariannya (2012: 7).

 

Sementara itu, di sisi lain, bagi partai-partai tertentu, kebutuhan akan ”gizi” yang berorientasi dari uang dan demi uang menyebabkan adanya politik biaya tinggi. Untuk mencegah kebangkrutan lebih lanjut, pilihan-pilihan pragmatis menjadi tidak terhindarkan.

 

Untuk persoalan ini, kerap partai tidak malu untuk meninggalkan mitra koalisinya untuk bergabung atau beralih dengan mitra yang lain. Situasi beralihnya dukungan semacam ini bukan hal yang asing.

 

Hal ini sudah dicontohkan, misalnya, dengan bergabungnya Golkar pada Koalisi SBYKalla, meski tadinya adalah partai inti pendukung Wiranto- Salahuddin Wahid. Lima tahun kemudian situasi itu terulang dengan masuknya Golkar dalam barisan pendukung SBY-Boediono, meski sebelumnya mendukung pasangan Kalla-Wiranto. Manuver pragmatis semacam itu masih terbuka peluang terjadi lagi jika prasyarat dua putaran masih ada dalam prosesi pemilihan presiden (pilpres).

 

Dan memang inilah faktor ketiga yang memungkinkan masih menguatnya politik transaksional yakni, aturan main dua putaran. Aturan ini menyebabkan persoalan politik transaksional hanya pindah waktu saja. Jika sebelumnya kesepakatan transaksional dimulai pasca-pileg sebelum pilpres, dan mengalami penguatan pada masa sesudahnya.

 

Maka ke depan, politik transaksional mungkin terjadi pasca-pilpres, baik selepas pilpres putaran pertama, ataupun pada saat menjelang penyusunan kabinet. Sambil menunggu putaran kedua, bukan tidak mungkin akan tercipta transaksi politik antara mereka yang kalah pada putaran pertama dengan yang masuk di putaran kedua.

 

Upaya untuk mendapatkan mesin dan jaringan partai untuk menyukseskan kandidat pasangan capres-cawapres yang dipertukarkan dengan posisi strategi di pemerintahan menjadi agenda penting pada transaksi itu.

 

Bahkan bukan tidak mungkin, sebagaimana yang telah diisyaratkan oleh studi Ambardi, kartelisasi tetap berpotensi terjadi pasca pilpres yakni, saat kabinet telah tersusun. Yang ditandai dengan pola hubungan yang cukup tenang (adem ayem) antara parlemen dan eksekutif, di mana jarang atau bahkan tidak adanya perdebatan yang bernas antara oposisi dan pemerintah atas sebuah kebijakan.

 

Sebagai jawaban atas ini semua adalah jelas pembenahan internal partai. Ideologisasi atau internalisasi nilai-nilai atau norma-norma harus dikembangkan dan diperkuat lagi. Penekanan pada aspek- aspek ”kejujuran ideologis” harus menjadi penjuru, mulai dari dalam perilaku, dan kebijakan partai hingga sebagai patokan penentuan karier para kader.

 

Singkatnya, pemodernan partai dengan menguatkan lagi peran ideologi sesuai dengan proporsinya tidak dapat dielakkan dan harus dimulai sesegera mungkin. Hanya dengan itulah, politik transaksional, yang berintikan sikap nonideologis dan oportunistis, dapat diredam dengan lebih efektif.

 

Sebagian kalangan mungkin melihat bahwa penguatan kembali nuansa ideologis partaipartai akan berpotensi mengulangi keruwetan pertarungan ideologis partai-partai sebagaimana yang terjadi di dasawarsa 1950-an.

 

Namun, pengalaman beberapa kali pemilu di era reformasi menunjukkan bahwa absennya ideologi telah menyebabkan pemerintah muncul tanpa karakter, berjalan tersendat dan penuh keraguan. Di kemudian hari, absennya ideologi tidak saja dapat menyebabkan partai hanya sekadar menjadi alat bagi siapa pun untuk melampiaskan hasrat berkuasa yang oportunistis, namun pula memunculkan pemerintahan yang tidak dapat dipertanggungjawabkan baik secara nalar maupun moral.


*) Peneliti Pusat Penelitian Politik-LIPI

 

Sumber: http://nasional.sindonews.com/read/2014/01/29/18/831008/akhir-politik-transaksional

Sekelumit Prof. Dr (H.C) Miriam Budiardjo, M.A

Ibu Miriam dkkProf. Dr (H.C) Miriam Budiardjo, M.A (ketiga dari kiri), lahir di Kediri tangal 20 Nopember 1923, meninggal di Rumah Sakit Medistra, Jakarta, akibat menderita komplikasi pernapasan dan gagal ginjal. Sejak 1 November 2006, perempuan diplomat pertama yang pernah bertugas di New Delhi, India, dan Washington DC, Amerika Serikat (AS), itu sempat beberapa kali dirawat inap di RSCM dan RS Medistra. Beliau, dimakamkan Selasa 9 Januari 2007 pukul 10.00 di TPU Giritama, Desa Tonjong, Kecamatan Bojonggede, Kabupaten Bogor, Jawa Barat. Ibu Miriam,  meninggalkan seorang putri, Gitayana Prasodjo dan dua cucu. Suaminya, Ali Budiardjo (mantan Sekretaris Jenderal Departemen Pertahanan), berpulang tahun 1999.


Semasa hidupnya, beliau banyak memberikan kontribusi bagi masyarakat, bangsa, dan negara. Sebelum penugasan pada perwakilan RI di New Delhi, India (1948-1950), dalam rangka perjuangan kemerdekaan, beliau diperbantukan pada Sekretariat Perundingan Linggarjati dan Perundingan Renville. Kemudian beliau ditempatkan di Kedubes RI di Washington (1950-1953) sebagai Sekretaris II sambil meneruskan studi pada Graduate School, Georgetown University, dengan memperoleh MA dalam Ilmu Politik pada tahun 1955 dan mengikuti kuliah di Harvard University (1959-1961).

 

Beliau pernah menjabat sebagai Pembantu Dekan I dan kemudian menjadi Dekan FISIP UI (1974-1979). Beliau juga pernah menjabat sebagai Wakil Ketua I Komnas HAM (1993-1998). Pada tahun 1999, beliau terpilih menjadi anggota Tim Sebelas (Tim Persiapan Komisi Pemilihan Umum) dan anggota Panwaslu. Hingga di usiannya yang ke 81, beliau masih memberi kuliah di beberapa perguruan tinggi antara lain Program Studi Kajian Ilmu Kepolisian, Program Pasca Sarjana Universitas Indonesia dan Jurusan Ilmu Ilmu Politik (FISIP-UI).

 

Beberapa karyanya yang pernah diterbitkan di antaranya adalah Dasar-dasar Ilmu Politik; Perkembangan Ilmu Politik di Indonesia; Demokrasi di Indonesia; Menggapai Kedaulatan untuk Rakyat; Partisipasi dan Partai Politik; Masalah Kenegaraan; Simposium Kapitalisme; Sosialisme; dan Demokrasi; Aneka Pemikiran tentang Kuasa dan Wibawa; dan Teori-teori Politik Dewasa ini.

 

Ibu Miriam pernah memperoleh tiga tanda jasa, yaitu Bintang Jasa Utama pada tahun 1975 untuk pengabdian kepada Republik Indonesia selama masa perjuangan kemerdekaan; Bintang Mahaputera Utama pada bulan Agustus 1998, dan Bintang Jasa Utama pada bulan Agustus 1999 atas pengabdiannya sebagai Anggota Tim Sebelas (Tim Persiapan Komisi Pemilihan Umum).

 

Disampaikan pada acara Miriam Budiardjo Lectures “Perkembangan Ilmu Politik Kontemporer di Indonesia”, di Widya Graha LIPI, Selasa 11 Maret 2008.

 

Baca juga: Sekelumit Dr. Alfian http://aipi-politik.org/kolom-aipi/219-sekilas-tentang-dr-alfian

Sekelumit DR. ALFIAN

aflianAlm. DR. AlfianDitulis oleh: Prof. Dr. Syamsuddin Haris
Disampaikan pada acara Alfian Lectures “Perkembangan Ilmu Politik di Indonesia”. Jakarta, 17 Maret 2005

 

Doktor Alfian, penggagas dan salah seorang pendiri Asosiasi Ilmu Politik Indonesia (AIPI) meninggalkan kita dan dunia yang fana ini dalam usia 52 tahun pada 25 November 1992, hampir tigabelas tahun yang lalu. Suami dari Magdalia (Melly) yang belum dikaruniai anak ini meninggal setelah beberapa waktu dirawat usai menjalani operasi jantung di Jerman. Siapa sebenarnya Alfian dan bagaimana kiprahnya semasa hidup, jelas terlihat dari kehadiran beragam kalangan di rumah duka dan pada saat pemakaman almarhum. Presiden Soeharto, sejumlah menteri, pimpinan lembaga tinggi negara, anggota DPR, politisi, tokoh masyarakat, dan para akademisi menyempatkan hadir untuk melayat serta memberikan penghormatan terakhir.

 

Dilahirkan di Solok, Sumatera Barat, pada tanggal 9 Oktober 1940, Alfian adalah salah seorang pionir perkembangan ilmu politik di Indonesia. Alfian meraih gelar doktor (Ph.D)  ilmu politik dalam usia sangat muda, yakni 28 tahun, dari University of Wisconsin, Amerika Serikat pada 25 Januari 1969. Putera Minang yang tamat Sekolah Rakyat di Solok, sekolah menengah pertama di Lampung, dan sekolah menengah atas di Jember (Jawa Timur) ini, menyelesaikan sarjana mudanya di Fakultas Sosial Ekonomi dan Politik Universitas Nasional. Alfian merupakan doktor ilmu politik kedua yang dimiliki Indonesia setelah Prof. Dr. Deliar Noer –seniornya di Universitas Nasional.

 

Setelah kembali dari Wisconsin, Alfian mengabdikan hidupnya untuk mengembangkan ilmu politik di Indonesia melalui profesinya sebagai peneliti di Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia, dan sebagai staf pengajar pada Departemen Ilmu Politik, Fakultas Ilmu-Ilmu Sosial, Universitas Indonesia. Di LIPI, Alfian pernah menjabat sebagai Direktur LRKN (Lembaga Research Kebudayaan Nasional) periode 1980-1985, setelah sebelumnya menjadi Asisten Direktur LEKNAS (Lembaga Ekonomi Nasional). Sejak 1986 hingga menjelang akhir hayatnya, Alfian adalah Kepala Pusat Penelitian dan Pengembangan Politik dan Kewilayahan LIPI. Sementara itu di Universitas Indonesia, selain sebagai staf pengajar, Alfian pernah menjadi Ketua Departemen Ilmu Politik dalam waktu yang cukup lama (1976-1982).

 

Dalam konteks kajian politik, Alfian adalah perintis penelitian-penelitian politik sekaligus menjadi Kepala Pusat-nya yang pertama di LIPI. Sedangkan dalam konteks pengajaran ilmu politik, bersama-sama Prof. Miriam Budiardjo, Alfian ikut merintis pengembangan jurusan dan kurikulum pengajaran ilmu politik melalui Departemen Ilmu Politik yang pernah dipimpinnya di UI. Pada periode ini, Alfian menerbitkan buku kecil, Political Science in Indonesia (Yogyakarta: Gajah Mada University Press, 1979) yang turut mengukuhkannya sebagai salah seorang perintis perkembangan ilmu politik. Buku tersebut, yang kemudian diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia oleh penerbit yang sama (Perkembangan Ilmu Politik di Indonesia, 1980), merekam perkembangan ilmu politik yang masih sangat muda di Tanah Air.

 

Selain meniti karir di dunia akademik sebagai peneliti dan dosen, Alfian adalah seorang praktisi politik dan juga birokrat sekaligus. Pada periode akhir hidupnya, Alfian adalah salah seorang pengurus pusat Golongan Karya –partai pemerintah dan mesin politik Soeharto—di samping sebagai salah seorang Deputi pada BP-7, salah satu instrumen sistem otoriter Orde Baru.

 

alfian1Sudah tentu, keterlibatan Alfian sebagai praktisi politik dan birokrat Orde Baru ini menimbulkan kontroversi mengenai posisi intelektualnya. Apalagi, sejak awal 1970-an, Alfian turut membangun perspektif teoritis tentang “Demokrasi Pancasila” sebagai semacam sintesa dari praktik “Demokrasi Liberal” era 1950-an, dan Demokrasi Terpimpin Soekarno pada paroh pertama 1960-an. Namun barangkali, disitulah sosok utuh dan juga unik dari Alfian. Di satu pihak, dia turut merintis perkembangan ilmu politik melalui profesi sebagai peneliti dan dosen, tetapi di pihak lain dia tidak pernah menjaga jarak dengan kekuasaan.

 

Secara agak sinis mungkin ada yang menyebut Alfian tidak konsisten atau sejenisnya. Akan tetapi, ilmu politik adalah sebuah disiplin yang berbicara tentang kekuasaan dengan berbagai problematiknya. Seorang peneliti ataupun dosen ilmu politik tak pernah benar-benar bisa menjaga jarak dari kekuasaan sebagai obyek kajiannya. Perspektif ideologis seorang peneliti ataupun dosen acapkali mewarnai pengamatan dan penilaiannya terhadap kekuasaan.

 

Ditinjau dari kacamata demikian, Alfian sesungguhnya adalah sosok intelektual yang “terlibat”, terlepas dari penilaian minor tentang kualitas keterlibatannya, karena bisa sangat berbeda pada setiap orang. Alfian sendiri merumuskan format keterlibatan intelektualnya dengan menggagaskan pembentukan wadah bagi para sarjana dan atau ahli ilmu politik. Dimulai dengan pertemuan para sarjana dan atau ahli ilmu politik di Widya Graha LIPI, Jakarta, pada akhir Desember 1984, bersama-sama dengan sejumlah ilmuwan politik yang lain, Alfian mendirikan Asosiasi Ilmu Politik Indonesia (AIPI) pada  1985. Kelahiran AIPI diinspirasikan terutama oleh keberadaan asosiasi profesi prestisius sejenis, American Political Science Association (APSA), di Amerika Serikat. Seperti APSA yang menjadi wadah para ilmuwan politik Amerika dan menerbitkan jurnal ilmiah tentang perkembangan teori politik mutakhir, AIPI yang menjadi wadah para sarjana dan atau ahli politik Indonesia juga menerbitkan Jurnal Ilmu Politik sejak 1986. Alfian kemudian dikukuhkan sebagai Ketua Umum Pengurus Pusat AIPI yang pertama. Obsesi Alfian untuk mendirikan organisasi profesi serupa pada tingkat ASEAN belum sempat terwujud hingga akhir hayatnya.

 

Melalui AIPI, Alfian tidak hanya berobsesi tentang pengembangan pendidikan dan pengajaran ilmu politik berdasarkan state of the art dan perkembangan mutakhir, melainkan juga dalam rangka –meminjam bahasa Orde Baru—“memasyarakatkan” ilmu politik. Konteks pengembangan pendidikan dan pengajaran ilmu politik tampak dari pendirian cabang-cabang AIPI di kota-kota di mana terdapat universitas yang memiliki salah satu jurusan yang dicakup dalam lingkup ilmu politik, yakni ilmu politik, ilmu pemerintahan, administrasi negara, dan hubungan internasional. Sementara itu konteks diseminasi kajian-kajian politik dilakukan melalui penerbitan buku hasil seminar-seminar tentang isu politik mutakhir –seperti Seminar Nasional AIPI ke-19 tentang Pilkada Langsung yang akan diselenggarakan di Batam pada 22-24 Maret 2005 mendatang.

 

Seminar-seminar nasional yang diselenggarakan AIPI, yang sampai saat ini sudah berlangsung untuk ke-18 kalinya, tidak hanya menjadi momentum bagi interaksi di antara para sarjana dan atau ahli politik, melainkan juga menjadi wadah interaksi antara para akademisi ilmu politik dan praktisi politik serta birokrat. Oleh karena itu dalam perkembangannya selama 20 tahun terakhir, AIPI tidak hanya mendiskusikan perkembangan teori dan isu politik mutakhir, tetapi juga memberikan kontribusi pemikiran dan rekomendasi dalam rangka perubahan kebijakan, meski tidak semua rekomendasi AIPI diakomodasi oleh para perumus kebijakan. Dalam konteks perubahan terhadap UUD 1945 misalnya, AIPI sepeninggal Alfian dan melanjutkan tradisi yang pernah diletakkannya, pernah mengadakan kerjasama dengan PAH I MPR menyelenggarakan seminar di Pekanbaru, Riau.

 

alfian2Sebagai pribadi, Alfian adalah sosok seorang demokrat dalam pengertian yang sesungguhnya. Meskipun posisi intelektualnya berbeda dan bahkan cenderung bertolak belakang dengan para koleganya di dalam dan di luar AIPI, Alfian tak pernah menjaga jarak dengan siapa pun. Dia bergaul dengan siapa saja tanpa memandang perbedaan ideologi dan pemikiran politik. Tak mengherankan jika Alfian bersahabat secara tulus dengan banyak orang dari beragam kalangan, baik di dalam maupun di luar pemerintahan, tanpa pernah merasa kehilangan intergritasnya.

 

Dalam profesinya sebagai peneliti, dosen, dan birokrat sekaligus, Alfian adalah sosok yang sangat berhasil. Alfian juga adalah seorang organisatoris yang berhasil, baik ketika menjadi Direktur LRKN LIPI, Ketua Departemen Ilmu Politik FIIS UI, dan Direktur Pusat Latihan Penelitian Ilmu-Ilmu Sosial di Banda Aceh, maupun tatkala menjadi Ketua Umum PP AIPI. Namun sayangnya, Alfian gagal dalam satu hal, yakni mengendalikan pengaruh buruk rokok terhadap kesehatannya. Alfian dikenal sebagai seorang perokok berat dan penikmat sejati dari jenis makanan berkadar lemak tinggi, terutama masakan Padang yang menjadi kesukaannya.

 

Setelah mengalami tiga kali operasi jantung, Alfian tak bisa lagi bertahan. Dia telah meninggalkan kita. Namun dia tak hanya dikenang karena buku-buku dan karya akademiknya, atau lantaran sosok pribadinya sebagai seorang yang demokrat, melainkan juga karena warisan semangatnya yang tak pernah henti mendorong para peneliti dan dosen muda untuk terus maju dan mengembangkan diri. Karena itu pula sudah sepantasnya jika AIPI menjelang Seminar Nasional XIX dan Kongres VI di Batam, menyelenggarakan kegiatan hari ini, tiada lain, kecuali dalam rangka menghormati dedikasi almarhum Doktor Alfian bagi perkembangan ilmu politik di Tanah Air.

 

Jakarta, 17 Maret 2005

Sinyal Politik buat Jokowi

INBOleh: Prof. Dr. Ikrar Nusa Bhakti
 
DI tengah apati masyarakat yang se makin meluas, Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) dalam Rapat Kerja Nasional III di Ancol, Jakarta, 6-8 September 2013, berupaya keras meyakinkan masyarakat bahwa masih ada harapan bagi negeri ini. Rakernas III PDIP tersebut bukan saja berupaya mematangkan konsep pemerintahan ke depan jika PDIP memenangi pemilu legislatif dan Pemilu Presiden 2014, termasuk program penyelamatan bangsa, melainkan juga membicarakan transisi kepemimpinan nasional dan masalah internasional.
 
Konsep pemerintahan sepatutnya dipadukan dengan konsep mengenai Indonesia masa depan. Kita dulu pernah memiliki Rencana Pembangunan Semesta Berencana delapan tahunan, Rencana Pembangunan Lima Tahun (Repelita), dan juga Garis-Garis Besar Haluan Negara (GBHN). Sesuatu yang baik harus dipertahankan. Karena itu, tidak ada salahnya jika kita kembali memiliki repelita dan GBHN.
 
Untuk mematangkan konsep pemerintahan dan pembangunan yang baik itu, PDIP mengundang tiga pembicara kunci, yaitu Ketua Komisi Pemilihan Umum (KPU) Husni Kamil Manik, Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Abraham Samad, dan Gubernur Lembaga Ketahanan Nasional (Lemhannas) Budi Susilo Supandji. Paparan ketiga pembicara kunci tersebut mendapatkan perhatian besar dari seluruh peserta rakernas, termasuk Ketua Umum PDIP Megawati Soekarnoputri. Diharapkan, ketiga pembicara tersebut dapat memberikan wa wasan yang luas kepada para peserta rakernas PDIP.
 
Meski pada rakernas PDIP tersebut tidak ada deklarasi politik mengenai siapa calon presiden dan wakil presiden yang diusung partai banteng gemuk itu, tampak nyata sudah ada sinyal dari Ketua Umum PDIP Megawati Soekarnoputri kepada Joko Widodo (Jokowi) bahwa Jokowi ialah generasi baru PDIP yang akan memegang tampuk kepemimpinan nasional.
 
Sinyal itu tampak dari ditunjuknya Jokowi sebagai pembaca Dedication of Live yang berisi ungkapan hati Bung Karno yang mengakui adanya kelemahan pada dirinya dan mendedikasikan seluruh hidupnya untuk Tuhan, Tanah Air, dan bangsa. Jokowi bukanlah seorang yang piawai dalam membaca puisi atau sajak.
 
Ia juga bukan orang yang bisa membacakan monolog dengan baik seperti Butet Kertarajasa. Karena itu, ditunjuknya Jokowi tersebut merupakan sinyal positif bahwa Megawati mendukung Jokowi untuk menjadi capres dari PDIP pada 2014. Sinyal berikutnya ialah saat Megawati pada pidato politiknya menyatakan Jokowi memiliki getaran Bung Karno. Pernyataan itu tentunya semakin menegaskan Jokowi ialah keturunan ideologis Soekarno.
 
Siap berkuasa?
 
Bila kita simak pernyataan-pernyataan politik generasi muda pemimpin di PDIP, tampak jelas betapa PDIP siap untuk menjadi partai penguasa. PDIP yakin akan memenangi pemilu legislatif dan Pemilu Presiden 2014 ka rena partai itu memiliki generasi muda yang amat menonjol dalam percaturan politik di Tanah Air.
Dengan kata lain, dalam sepuluh tahun terakhir ini PDIP mampu menghasilkan kader-kader partai yang kapabel dan brilian.
 
Sebagian kader muda itu menduduki jabatan sebagai gubernur, bupati, anggota DPR, dan jabatan-jabatan publik lainnya. Jika dibandingkan dengan partaipartai politik lainnya, PDIP harus diakui berhasil melakukan rekrutmen dan kaderisasi politik secara apik.
 
Sepuluh tahun terakhir ini pula partai itu begitu solid dan tidak mengalami perpecahan internal yang besar seperti yang pernah dialami menjelang Pemilu 2004. Namun, para kader PDIP jangan menepuk dada dahulu karena pertarungan politik baru saja dimulai dan belum usai. Karena itu, PDIP tidak boleh terbuai oleh berbagai hasil survei yang menyatakan partai itu akan menjadi pemenang pemilu legislatif nomor satu atau nomor dua. Sejalan itu pula PDIP jangan terlalu jumawa akan memenangi Pilpres 2014. 
 
Ketamakan, keyakinan diri, atau kepercayaan diri yang begitu kuat dapat menjadi bumerang bagi PDIP.
 
Partai itu harus terus menggerakkan mesin partai agar masyarakat akar rumput tidak beralih ke partai lain atau terkesima oleh sosok calon pemimpin lainnya. Tanpa itu, mereka yang dulu menjadi konstituen PDIP bisa saja mendukung caleg atau capres dari partai lain.
 
Fenomena Jokowi
 
Dalam dua tahun terakhir ini situasi menunjukkan betapa Jokowi muncul sebagai pemimpin yang diidolakan banyak orang. Sepak terjangnya sebagai Wali Kota Surakarta dan Gubernur DKI Jakarta berani dan tegas demi perbaikan nasib wong cilik, penampilannya yang sederhana, serta sikapnya yang santun menyebabkan dia dipandang sebagai pemimpin bangsa yang paling pas untuk negeri ini.
Jokowi lebih banyak bekerja ketimbang berbicara. Jokowi juga dipandang sebagai tokoh sipil yang tak kalah berani dan tegasnya jika dibandingkan dengan tokoh bangsa yang berasal dari kalangan militer atau polisi.
 
Fenomena Jokowi itu mengulang fenomena Megawati pada akhir 1990-an. Jokowi dapat mendongkrak elektabilitas PDIP pada 2014 mendatang jika Jokowi dideklarasikan sebagai capres PDIP sebelum pemilu legislatif. Bila Megawati dapat mendongkrak suara PDIP sampai 33% pada Pemilu Legislatif 1999, Jokowi diharapkan dapat mendongkrak suara PDIP sampai 26% atau lebih.
 
Namun, tampaknya pengurus teras PDIP begitu khawatir Jokowi akan menjadi sasaran tembak kritik atau pembunuhan karakter jika dideklarasikan lebih awal.
Sebenarnya, cepat atau lambatnya Jokowi dideklarasikan sebagai capres bukanlah penyebab ia menjadi sasaran tembak karena sejak menjadi cagub DKI Jakarta pun Jokowi sudah menjadi sasaran tembak dari orang atau kelompok yang tidak menyukai Jakarta berubah ke arah yang lebih baik.
 
Masa depan PDIP
 
PDIP, suka atau tidak suka, harus diakui sebagai partai yang konsisten untuk tetap berada di oposisi selama hampir 10 tahun terakhir ini. Partai itu tidak pernah tertarik pada iming-iming jabatan di kabinet Susilo Bambang Yudhoyono. Masa 10 tahun tampaknya merupakan masa untuk menempa diri bagi kader-kader PDIP. Tidaklah mengherankan jika PDIP kini percaya diri untuk siap berkuasa.
PDIP dapat membangun tonggak sejarah bangsa bila mampu mengembalikan kepercayaan rakyat kepada sistem demokrasi, partai politik, dan politisi.
 
Hal itu hanya bisa dilakukannya bila PDIP mengajukan Jokowi sebagai capres dan menang pada Pilpres 2014. Partai itu harus berkaca pada kegagalan-kegagalan mereka dalam percaturan politik di masa lalu, baik dalam pilpres ataupun pemilu kada.
 
PDIP jangan sampai salah menentukan strategi seperti yang terjadi dalam pilgub Bali atau pilgub Jatim. Tahun 2014 ialah tahun tantangan, tahun penentuan, dan juga tahun kesempatan bagi PDIP. Melalui strategi yang jitu dan berani, PDIP dapat menjadi pemenang pemilu legislatif dan juga pilpres. Di tengah harapan masyarakat untuk memiliki pemimpin yang tulus, jujur, visioner dan dedikatif, PDIP harus mendengarkan suara rakyat.

 

 

Bila para pemimpin PDIP tak mau mendengar suara hati rakyat, bukan mustahil partai ini akan menambah kekalahan baru pada Pilpres 2014. Karena itu, pilihan pada Jokowi sebagai capres merupakan suatu keniscayaan. Sekarang atau tidak selamanya!

 

*) Profesor Riset di Pusat Penelitian Politik-LIPI dan Ketua Harian PP AIPI


Artikel ini dimuat di MEDIA INDONESIA, 09 September 2013

 

Konvensi dan Pertaruhan

shOleh: Prof. Dr. Syamsuddin Haris
 
Politik pada dasarnya adalah bisnis kepercayaan. Partai Demokrat yang tengah mempersiapkan konvensi calon presiden mulai diuji, apakah mampu menjadikan konvensi yang digagas Presiden SBY ini sebagai ajang pemulihan kepercayaan publik.
 
Betapa tidak, konvensi belum digelar, tetapi empat tokoh dari 15 orang yang diundang sudah menyatakan mundur dari arena, yakni Jusuf Kalla, Mahfud MD, Rustriningsih, dan Rusdi Kirana. Alasan mereka mundur tentu beragam. Namun, pernyataan Mahfud MD bisa menjadi rujukan. Kepada para juru warta, mantan Ketua Mahkamah Konstitusi tersebut, antara lain mengatakan, hak dan kewajiban peserta konvensi tidak jelas dan tidak mampu dijelaskan oleh komite konvensi sehingga dia memilih mundur.
 
Sejak awal sejumlah kalangan meragukan keseriusan parpol segitiga biru ini menggelar konvensi. Pasalnya, Demokrat tidak kunjung memberi penjelasan yang transparan terkait skema dan mekanisme konvensi serta persyaratan peserta konvensi. Pada saat yang sama, AD/ART Demokrat yang memberi otoritas penetapan capres kepada Majelis Tinggi tidak diubah. Semula publik memperoleh informasi, peserta konvensi sebagian diundang oleh SBY, sebagian lainnya mendaftarkan diri.
 
Pembedaan jalur peserta konvensi ini memicu munculnya rumor terkait adanya perbedaan ”kelas” para tokoh capres. Mungkin rumor itu sampai juga ke telinga SBY sehingga jalur pendaftaran pun ditiadakan. Semua kandidat peserta akhirnya melalui mekanisme undangan.
 
Tanpa konsep
Kesimpangsiuran mekanisme dan prosedur konvensi menggambarkan bahwa Partai Demokrat sendiri tampaknya belum memiliki konsep yang jelas terkait konvensi yang hendak digelar untuk menjaring capres 2014 tersebut. Meskipun penjaringan capres itu dilabeli nama ”konvensi”, kegiatan yang seharusnya bersifat internal itu ternyata mengundang pula tokoh parpol lain, seperti Jusuf Kalla (Partai Golkar) dan Endriartono Sutarto (Partai Nasdem). Mantan Panglima TNI Endriartono akhirnya dipecat Nasdem.
 
Sulit dimungkiri, gagasan konvensi pertama kali dilontarkan SBY selaku tokoh sentral Partai Demokrat di tengah kekalutan sang pendiri atas nasib partai yang elektabilitasnya terus merosot. Kasus korupsi yang melibatkan sejumlah petinggi partai dan terus ”digoreng” media diduga membuat elektabilitas Demokrat terpuruk. Sebagai gagasan yang lahir di tengah kekalutan, konvensi versi SBY ini tampaknya masih mentah dan belum sempat diperdebatkan secara serius dan mendalam di internal Demokrat sendiri. Risiko seperti inilah yang harus dihadapi jika sebuah parpol cenderung dikelola secara one man show dan terlalu bergantung pada figur tunggal, SBY.
 
Para petinggi Demokrat sendiri acap kali berbeda pemahaman tentang konvensi karena mereka tak tahu persis bagaimana konsep, format, dan mekanisme konvensi yang dibayangkan sang pendiri. Sebagai suatu cara demokratis dalam menjaring capres, ide konvensi sebenarnya mendapat dukungan luas. Namun, gagasan yang baik belum tentu berhasil baik jika tak dikelola dan diorganisasikan secara benar, tepat, dan cerdas.
 
Pertaruhan Demokrat
Kini konvensi capres Demokrat mulai bergulir. SBY menetapkan sejumlah tokoh sebagai komite pelaksana konvensi. Sebelas kandidat pun sudah menyatakan kesediaan untuk turut serta dalam konvensi. Persoalannya kemudian adalah bagaimana komite konvensi dan SBY membangun kepercayaan para peserta bahwa konvensi tidak semata-mata untuk tujuan mendongkrak elektabilitas Demokrat. Jika kepercayaan peserta gagal dibangun, tak mustahil kelak akan ada lagi kandidat yang mundur sebelum publik sempat mendengar gagasan dan mimpi mereka tentang Indonesia kita ke depan.
 
Karena itu, kemunduran Jusuf Kalla dan kawan-kawan semestinya menjadi pelajaran bagi SBY dan Demokrat agar tak main-main dengan proses konvensi. Ada beberapa prasyarat dasar yang perlu dipenuhi komite konvensi dan SBY agar publik dan juga peserta konvensi percaya bahwa konvensi dilakukan secara serius.
 
Pertama, memastikan format, mekanisme, dan tahap-tahap konvensi secara jelas, transparan, dan akuntabel kepada publik. Kedua, memastikan segenap hak dan kewajiban peserta konvensi, baik selama berlangsungnya konvensi maupun sesudahnya, termasuk sumber dan beban pembiayaan. Ketiga, menjadikan konvensi sebagai arena pertarungan gagasan dan mimpi para capres tentang Indonesia masa depan. Keempat, memastikan bahwa Partai Demokrat akan menjadikan hasil konvensi sebagai dasar pengajuan capres, termasuk memperjuangkannya jika harus berkoalisi dengan parpol lain.
 
Konvensi capres ala SBY ini adalah pertaruhan politik yang menentukan masa depan Demokrat, apakah parpol pemenang Pemilu 2009 ini masih layak dipilih dalam pemilu mendatang, atau justru bakal tenggelam ditelan sejarah. Apabila konvensi dikelola dan diorganisasikan secara baik dan benar, Partai Demokrat akan menikmati hasilnya, yakni kemungkinan pulihnya kembali kepercayaan publik. Sebaliknya, jika semua soal harus menunggu ”sinyal” dan bahkan ”restu” SBY, masa depan Demokrat menjadi taruhannya.


Persoalan lain adalah memastikan kedudukan anggota dan jajaran pengurus Demokrat dalam ajang konvensi, apakah mereka terlibat sepenuhnya, sebagian, atau disetarakan dengan masyarakat lain yang bakal menjadi responden survei publik terhadap para capres peserta konvensi. Dalam praktik konvensi capres di Amerika Serikat, misalnya, para anggota dan pengurus partai inilah yang akhirnya menentukan kelayakan kandidat. Lembaga survei kemudian menguji popularitas dan elektabilitas para kandidat. Oleh karena itu, sebelum kepercayaan publik turut runtuh, beban pertama dan utama komite konvensi adalah menjelaskan semua soal terkait konvensi secara terbuka dan apa adanya. Termasuk, apakah komite konvensi mengambil keputusan secara otonom atau harus menunggu ”sinyal” dan ”restu” SBY lebih dahulu.

 

*) Penulis adala Profesor Riset Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia dan Sekjen PP AIPI


Artikel ini di muat di KOMPAS, 04 September 2013