Kegiatan AIPI

Seminar Nasional XXVI AIPI

“MEMBACA 70 Tahun Indonesia Merdeka:

Tantangan Menuju Negara Demokrasi Berkeadilan Sosial”

Ruang Seminar Besar, Gdg. Widya Graha LIPI, Lt.1- Jakarta, 27 Agustus 2015

Latar Belakang

Hari kemerdekaan suatu negara hampir selalu disambut dengan suka cita oleh rakyatnya. Namun demikian hari kemerdekaan tak hanya dirayakan sebagai hari pembebasan, melainkan juga dijadikan momentum introspeksi dan evaluasi, yakni untuk mempertanyakan kembali capaian dan prestasi yang sudah diraih, serta momentum mengevaluasi kegagalan mewujudkan sebagian tujuan berbangsa dan bernegara. Selain itu, hari kemerdekaan dianggap sebagai waktu yang tepat untuk menganyam kembali harapan baru bagi segenap kolektitas negara-bangsa ke depan.

Introspeksi dan evaluasi serupa sepatutnya dilakukan sehubungan dengan peringatan hari kemerdekaan bangsa kita yang ke-70 pada 2015 ini. Sudah saatnya kita mempertanyakan kembali prestasi yang telah dicapai, apa saja kekurangan dan kegagalan selama rentang waktu 70 tahun itu, tantangan seperti apa yang akan dihadapi ke depan, serta peta jalan baru seperti apa yang lebih menjanjikan untuk mewujudkan Indonesia yang lebih adil dan sejahtera sebagaimana diamanatkan oleh Pembukaan UUD 1945. Di satu pihak kita bersyukur, Indonesia pasca-Orde Baru yang sempat dicabik-cabik oleh konflik komunal di sejumlah daerah seperti Kalimantan, Sulawesi, dan Maluku, ternyata masih bisa bertahan sebagai sebuah Republik. Kita juga patut memberi apresiasi atas prestasi berdemokrasi selama lebih dari 15 tahun era reformasi, setelah sebelumnya bangsa kita mengalami periode sistem otoriter yang panjang di bawah rejim Demokrasi Terpimpin (1959-1965) dan Orde Baru (1966-1998).

Namun demikian di pihak lain, tidak sedikit daftar kegagalan dan potret buram bangsa kita dalam rentang usia 70 tahun itu. Dapat disebut misalnya, kegagalan negara menegakkan pemerintahan yang bersih dan mengurangi korupsi secara signifikan, kegagalan negara dalam mewujudkan kemakmuran dan keadilan sosial, serta juga kegagalan negara dalam mencerdaskan kehidupan bangsa dan melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia, termasuk hak hidup bagi minoritas agama dan kepercayaan. Catatan lain yang tak kalah pentingnya adalah kegamangan pemerintah-pemerintah hasil pemilu era reformasi dalam memastikan posisi dan format peran internasionalnya dalam “ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial” seperti diamanatkan oleh pembukaan konstitusi.

Pertanyaannya kemudian, apa yang salah? Mengapa salah urus negara dan pemerintahan masih berlangsung terus dan hampir selalu berulang meskipun Indonesia sudah 70 tahun merdeka? Apakah Indonesia, dengan skema negara kesatuan yang berlaku sekarang, masih mampu survive untuk 100 tahun berikutnya? Apakah sistem demokrasi presidensial berbasis multipartai seperti yang berlaku saat ini masih relevan dan menjanjikan dalam mewujudkan tujuan nasional bangsa Indonesia seperti termaktub dalam Pembukaan UUD 1945. Apakah pilihan-pilihan kebijakan ekonomi pemerintah benar-benar menjanjikan terwujudnya cita-cita keadilan, kemakmuran, dan kesejahteraan sosial? Tantangan seperti apa yang akan menghadang Indonesia menyongsong masa depannya? Skema dan peta jalan baru seperti apa yang diperlukan untuk membenahinya, sehingga kita masih memiliki harapan bahwa Republik ini masih bisa bertahan sekurang-kurangnya untuk 100 tahun lagi ke depan? Dalam konteks peran internasional, bagaimana Indonesia memandang atau menilai dirinya sendiri, termasuk peran dan kehadirannya secara regional dan global? Apa saja tantangan yang dihadapi sehingga visi dan peta jalan baru yang ditawarkan Indonesia ke depan dalam “ikut melaksanakan ketertiban dunia” dapat diwujudkan sesuai mandat konstitusi?

Sebagai organisasi profesi keilmuan bagi para ahli dan atau sarjana politik, Asosiasi Ilmu Politik Indonesia (AIPI), memiliki komitmen yang besar untuk turut memikirkan dan mencarikan solusi atas berbagai persoalan bangsa tersebut. Bertolak dari pertanyaan-pertanyaan di atas, Pengurus Pusat AIPI memandang perlu untuk membahas dan mendiskusikan berbagai persoalan di atas dalam suatu seminar nasional yang tidak hanya menghadirkan ilmuwan politik, melainkan juga para praktisi, pejabat politik, dan mantan pejabat publik.

 

Tema dan Tujuan Seminar

 

Sehubungan dengan itu, Pengurus Pusat AIPI merencanakan untuk menyelenggarakan Seminar Nasional XXVI AIPI dengan tema “Membaca 70 Tahun Indonesia Merdeka:TantanganMenuju Negara DemokrasiBerkeadilan Sosial”. Penyelenggaraan Seminar Nasional XXVI AIPI tersebut akan dirangkaikan dengan pelaksanaan Kongres IX AIPI.

Seminar Nasional XXVI AIPI ini tidak hanya dimaksudkan untuk mengevaluasi perjalanan Republik Indonesia di usia ke-70 tahun, melainkan juga dalam rangka mengidentifikasi akar masalah di balik berbagai kegagalan bangsa, serta mencoba merumuskan tantangan serta peta jalan baru sebagai solusi ke depan. Secara spesifik, Seminar Nasional XXVI AIPI hendak menjawab dan mendiskusikan pertanyaan-pertanyaan berikut ini sekaligus sebagai tujuan seminar:

  1. Mengapa Indonesia masih bisa survive hingga usia ke-70 saat ini? Apakah Indonesia masih akansurvive 100 tahun mendatang? Pertanyaan-pertanyaan ini dilatarbelakangi antara lain konflik komunal yang melanda bangsa ini di satu pihak, dan realitas salah urus negara dan pemerintahan yang berlangsung terus kendati sistem demokrasi sudah dijemput melalui reformasi 1998 di lain pihak. Fenomena korupsi, supremasi hukum yang acapkali kalah oleh supremasi kekuasaan, dan masih cukup besarnya ancaman terhadap pluralism, menjadikan pertanyaan tersebut relevan dibahas di dalam seminar.
  2. Apa saja tantangan yang dihadapi bangsa Indonesia dalam mempertahankan konsep negara kesatuan? Konsep serta skema desentralisasi dan otonomi daerah seperti apa yang lebih menjanjikan terwujudnya cita-cita keadilan, kemakmuran dan kesejahteraan rakyat di satu pihak, dan keutuhan bangsa di lain pihak? Pertanyaan-pertanyaan ini antara lain lahir dari praktik desentralisasi dan otonomi daerah yang cenderung mengkavling-kavling daerah ketimbang meningkatkan kualitas kesejahteraan rakyat di daerah.
  3. Apakah sistem demokrasi presidensial masih relevan dan menjanjikan? Pertanyaan ini tak hanya lahir dari realitas sistem demokrasi presidensial yang cenderung terperangkap ke dalam praktik parlementer, tetapi juga dilatari oleh inkonsistensi dan ambivalensi politisi parpol dalam mendukung efektifitas
  4. Apa dan bagaimana Indonesia memandang posisi dan peran internasionalnya ke depan? Pertanyaan ini muncul dari realitas posisi dan peran internasional Indonesia yang cenderung tidak jelas, padahal mandat konstitusi tentang keniscayaan peran global, dan prinsip dasar politik luar negeri bebas aktif, sangat jelas.

Format Seminar dan Topik-topik Utama

 

Seminar Nasional XXVI AIPI akan dilaksanakan dengan format yang agak berbeda dengan seminar-seminar sebelumnya. Seminar Nasional hanya terdiri atas Sesi Panel Tokoh dan Sesi Makalah Utama. Sesi Panel Tokoh akan menghadirkan para tokoh politik, pemerintahan dan tokoh masyarakat yang diundang oleh PP AIPI. Sedangkan Sesi Makalah Utama akan menghadirkan presentasi makalah-makalah dari para ahli politik yang diminta oleh Panitia Seminar Nasional XXVI AIPI.

Topik Panel Tokoh: ”Demokrasi, Kepemimpinan Politik, dan Kesejahteraan Rakyat”.

Topik-topik Makalah

  1. Mengapa Indonesia masih bisa survive hingga usia ke-70 saat ini? Apakah Indonesia masih bisa survive 100 tahun mendatang?
  2. Apa saja tantangan yang dihadapi bangsa Indonesia dalam mempertahankan konsep negara kesatuan?
  3. Apakah sistem demokrasi presidensial masih relevan dan menjanjikan?
  4. Apa dan bagaimana Indonesia memandang posisi dan peran internasionalnya ke depan?

 

Makalah dan Pembicara

Makalah-makalah dalam Seminar Nasional XXVI AIPI akan disajikan oleh para ahli, tokoh politik dan pemerintahan yang diundang oleh panitia yang dibentuk oleh PP AIPI. Makalah diharapkan dapat diterima panitia seminar paling lambat tanggal24Agustus 2015. Makalah ditulis dalam kertas A4 dengan font Times New Roman 12, spasi 1,5. Jumlah halaman 15-20 lembar lengkap dengan referensi dan daftar pustaka. Makalah dikirimkan melalui email di Alamat email ini dilindungi dari robot spam. Anda memerlukan Javascript yang aktif untuk melihatnya.. Informasi lebih lanjut dapatmenghubungi Prayogo (HP 0819 3249 3334).

 

Peserta

Seminar Nasional XXVI AIPI di Jakarta akan diikuti oleh para ahli ilmu politik, ilmu pemerintahan, ilmu hubungan internasional, dan ilmu administrasi negara yang datang dari berbagai daerah di Indonesia, para praktisi politik di pemerintahan, para anggota dan pengurus AIPI, mahasiswa, serta para peminat lain yang mendaftarkan diri ke panitia seminar.

 

Waktu dan Pelaksanaan

Seminar Nasional XXVI AIPI akan diselenggarakan pada tanggal 27-28 Agustus 2015 diRuang Seminar Besar, Gdg. Widya Graha LIPI, Lt.1, Jl. Jend. Gatot Subroto 10, Jakarta,

 

Penyelenggara

Seminar Nasional XXVI AIPI diselenggarakan oleh Panitia Seminar yang dibentuk dan bertanggung jawab kepada Pengurus Pusat AIPI.

SUSUNAN ACARA SEMINAR NASIONAL XXVI AIPI

“Membaca 70 Tahun Indonesia Merdeka:Tantangan Menuju Negara Demokrasi Berkeadilan Sosial”

Ruang Seminar Besar, Gdg. Widya Graha LIPI, Lt.1- Jakarta, Kamis, 27 Agustus 2015

Hari/Tanggal

Waktu

Acara

Kamis, 27 Agustus 2015

08.30 - 08.55

Registrasi dan kopi pagi

08.55 - 09.15

Pembukaan:

- Menyanyikan Lagu Indonesia Raya

- Sambutan

Dr. S.H Sarundajang (Ketua Umum AIPI)

-  Pembacaan Doa

09.15-10.00

Keynote speech

Tujuh Puluh Tahun Indonesia Merdeka:

Tantangan Menuju Negara Demokrasi Berkeadilan Sosial

-          Presiden RI, Ir. Joko Widodo *

10.00-12.00

Panel Tokoh

Demokrasi, Kepemimpinan Politik dan Kesejahteraan Rakyat

  1. Jenderal TNI (Purn.) Luhut B. Pandjaitan
  2. AzyumardiAzra
  3. Anies Baswedan, Ph.D*
  4. Basuki Tjahaja Purnama,

Moderator: Dewi Fortuna Anwar

12.00-13.00

Istirahat/makan siang

13.00-14.30

Apakah Indonesia masihbisasurvive100 tahunmendatang?Apasajatantangan yang dihadapibangsa Indonesiadalammempertahankankonsepnegarakesatuan?

  1. Nico Harjanto, Ph.D

Moderator: Prof. Dr. Ikrar Nusa Bhakti

14.30-16.00

Apakah sistem demokrasi presidensial masih relevan dan menjanjikan?

  1. SaldiIsra,

Moderator: Prof. Dr. Syamsuddin Haris

16.00 – 17.00

Apadanbagaimana Indonesia memandangposisidanperaninternasionalnyakedepan?

  1. Retno L.P. Marsudi *

Moderator: Dr. Adriana Elisabeth

*) dalam konfirmasi

Leave your comments

0 Character restriction
Your text should be more than 10 characters
Your text should be less than 300 characters
terms and condition.
  • No comments found